‘Omon-omon’ (Gerede) Sebagai Kemerosotan Eksistensial Bagi Heidegger
Dinamika kosa-kata dalam bahasa di Indonesia ramai oleh ‘Omon-omon’. Istilah yang mencuat di ajang Debat Pilpres 2024 dari Presiden Prabowo Subianto. Kata ini yang sebenarnya terpeleset dari niat mengucap Omong – omong, menjadi ‘Omon – omon’ ketika membalas argumen lawan debatnya, Anies Baswedan. Tanpa diprediksi, insiden ini kemudian menjadi viral dan menambah meriahnya perbendaharaan kata yang hingga kini dipergunakan untuk menggantikan istilah omong- omong belaka, cuap – cuap ataupun dalam kamus jawa mungkin dapat parkir dalam padanan kata ngalor-ngidul, yaitu obrolan tanpa arah tujuan yang jelas. Martin Heidegger, Bapak Eksistensialis Jerman yang berlatar fenomenologi ini membahas bagaimana idle talk atau Gerede, atau jenis – jenis interaksi seperti omon-omon, dalam medium bicara, berpotensi menjebloskan manusia pada kondisi kemerosotan eksistensial. Benarkah demikian ? Dan apa maksudnya?
Rombongan Das Man
Seringkali kita terjebak dalam situasi yang memaksakan interaksi diluar kapasitas dan keperluan untuk menjembatani relasi sosial dalam kehidupan. Tanpa bertanya lebih lanjut pada intelek aktif maupun intelek pasif sebenarnya apakah kita cukup niat dan cukup materi. Lebih tepatnya tanpa pemikiran dan memiliki kecenderungan yang kuat dalam spontanitas. Demi partisipasi, demi penerimaan hingga demi label personal yang sedang diusahakan. Namun seringkali didorong atas impulsifitas dan rasa penasaran. Pada akhirnya seringkali berujung kerberhasilan dalam arena lobi – melobi atau penerimaan semu di masyarakat, namun mempertaruhkan autentisitas diri atau yang disebut Martin Heidegger sebagai Uneigetlichkeit (ketidakautentikan).
Dalam perjalanan memenuhi konformitas masyarakat luas atas etiket maupun konstruksi sosial atas ritual – ritual bermasyarakat, kita lupa bahwa ombak Das Man (the They) menyeret kita semakin jauh dari makna diri yang tidak lagi diketahui rimbanya. Hal ini tidak lain karena bertubi – tubi kehilangan Angst (kekhawatiran), terlena dalam permukaan dangkal yang nyaman atas penggambaran diri yang biasa – biasa saja hasil dari keengganan berpikir. Memang Intensionalitas atas subyek dengan sekitarnya tidak dapat dilepaskan dalam realitas atas ‘Ada’, tetapi sejauh apa batasannya? Apakah kita harus selalu berombongan dan bergerombol dalam gagasan, ketimbang berjejaring atau bergandengan pada spasialitas diri yang menjadi esensi dalam eksistensi kita?
Ketika Husserl kemudian disangsikan oleh Heidegger atas konsep ‘kembali kepada subyek’ karena idealismenya atas kesadaran akan keberadaan yang seolah absolut (Donny Gahral Adian 2016 : 50). Heidegger tidak bersandar pada dualisme Cartesian antara pemisahan mental dan fisikal, maupun subyek dan obyek. Baginya, dalam keseharian, Dasein sudah selalu siap ‘Ada’. Semua saling terlibat dan terkait dalam faktisitas hingga perjalanannya menuju maut. Lalu apa yang dipersoalkan dalam Gerede atau idle talk dalam konsep keseharian Heidegger sebagai Being-In-The-World?
Yang Luput dari Kesadaran, Keterlupaan akan Ada (Seinsvergessenheit)
“…Being-in is Being-with(Mitsein)-others (Stambaugh,Heidegger,BT,h.154). Adalah suatu karakteristik dalam penjabaran Heidegger tentang dunia Dasein yang mengingatkan bagaimana faktisitas Ada di dunia selalu berada dengan yang lainnya. Namun, pada akhirnya pertanyaannya adalah bagaimana Dasein ketika menginterpretasi fenomena dan kejadian – kejadian seringkali dibutakan dalam kesehariannya? Bagaimana dalam keterlemparan kadangkala terjadi dimana perhatian dan penyelarasan diri (attunement) di dunia dipengaruhi oleh suasana hati (Stimmung), khususnya suasana hati yang buruk (Verstimmung). Sehingga kita tidak lagi mampu merefleksikan apa yang sesungguhnya kita ketahui telah menjadi pengalaman – pengalaman imanen dalam temporalitas kehidupan, apalagi mengharmonisasikannya sebagai sesuatu yang benar – benar Ada ‘di situ’ (Das Sein). Bagaimana hidup di tengah masyarakat atau Publicness dalam istilah Heideggerian mengendalikan apa yang sepatutnya menjadi jernih dalam interpretasi.
Ketika Das Man yaitu sekelompok masyarakat sudah selalu ada di sekeliling kita, membuat definisi dalam urusan – urusannya, yaitu atas siapa dan apa yang dinyatakan sebagai relasi dari mereka hingga membentuk prinsip apa yang harus dipertahankan dan apa yang dipertentangkan. Dan bagi manusia atau dasein, hal ini kemudian dipertanyakan apa yang menjadi pembeda bagi diri dan apa yang merelasikannya dengan sekitar. Ada label-label yang menandakan bagaimana hubungan kita dengan yang lainnya, siapa mendominasi siapa (kelas sosial).
Ketika terjadi kita sebagai being-with-one-another, tersamar atas hierarki relasi – relasi ini dikarenakan terdapat jarak yang membungkam, dan semakin tertutup oleh jarak ini, maka semakin primordial dan keras kepala juga kita dalam menyadari atas keterkaitan ada-satu dengan-yang-lainnya. Keberjarakan atau Abstandigkeit inilah yang nantinya menjadikan Dasein itu menyadari keberdirian dirinya sendiri, tidak sama dari yang lain. Seolah terpisah dan tersisih, Dasein kemudian cenderung memiliki kepatuhan atas yang lainnya demi rasa kebersamaan (Heidegger,stambaugh,p162). Ini mudah saja kita alami dalam urusan keseharian berkendara dalam transportasi umum, ataupun penggunaan fasilitas umum lain, seringkali keterlupaan akan Ada-satu-sama-lain terjadi, seperti larutnya Dasein sepenuhnya menjadi Ada seperti masyarakat lainnya sehingga kehilangan ciri khasnya dan semakin menghilang untuk menyatu dengan yang lainnya.
Disinilah konformitas masyarakat tanpa sadar menjadi diri kita, kita suka apa yang orang lain suka, bela apa yang orang lain perjuangkan, dan menilai sesuatu seperti apa yang mereka nilai. Kita berada dalam ambang peleburan atas The they , atau cara ada orang – orang di sekitar yang menawarkan keseharian dalam banalitas. Keberjarakan tadi yang membuat kita menjadi melihat bahwa yang membuat ada-dengan-satu-sama-lain menjadi biasa saja, karakter eksistensialisme dari The They (Heidegger, Stambaugh, p.163). Dan mereka memiliki standar bersama juga atas apa yang disebut keberhasilan dan apa yang bukan, apa yang harus diusahakan dan apa yang tidak, dan tidak berhenti disitu saja The They juga mengawasi dan memastikan satu sama lain berlaku seperti demikian.
Dalam rangkuman kuliah Martin Heidegger di 1925, The Concept of Time yang ditulis oleh William McNeill, sebagai ‘Dasein of Others’ seringkali informasi yang mereka dapatkan tidaklah kaya, dan keberadaan mereka tidak dapat menggantikan peran Dasein yang sesungguhnya secara autentik dan asli (11E,Mcneill). Seringkali luput dari kesadaran siapa mereka sesunggguhnya,dan melupakannya (Vergessen) padahal dalam keseharian manusia, entitas Dasein harus mampu dikarakterisasi oleh yang lainnya, dari pembicaraanya yang menunjukan suatu ciri tertentu. Disinilah apa yang kita utarakan menjadi berarti dan patut diberikan perhatian atas pengaruhnhya terhadap keberadaan di dunia. Spesifisitas dan cara tunggal menjadi Dasein yang harus selalu disadari adalah :
I never am the Other (saya tidak pernah sebagai yang Liyan).
Dari pembahasan diatas muncul sejumlah kritik yang mempertanyakan sejauh apa konsep Dasein ini berdiri. Narasi individual dalam mempertegas eksistensinya tanpa pertimbangan intersubyektivitas atau dasar yang rasional seperti tidak mengindahkan etika maupun moral, dan terkesan solipsis. Namun dalam membaca tulisan pasca metafisika era, adalah jauh dari bijaksana apabila menempatkan pada sesuatu yang sistematis dan analitis. Sehingga keliru ketika menyimpulkan. Sejatinya, Heidegger memaparkan bagaimana Dasein justru sudah dan selalu ada bersama yang lainnya dan menerima kenyataan atas kecenderungan Dasein untuk lupa dan mengalami kejatuhan eksistensial. Dalam hal ini Heidegger sesungguhnya menggambarkan bahwa manusia memiliki kemampuan mengelak dari bahaya menjadi falling prey apabila di awal ia berhasil mendeteksi godaan (versuchung) dalam kesehariannya. Godaan untuk tetap berada di zona nyaman khususnya di era yang serba terus berjalan cepat saat ini seringkali menggelincirkan kita untuk mengambil keputusan – keputusan yang tidak matang demi menghindari ketidaknyamanan dalam berpendirian.
Tergelincir Dalam Versuchung
Kemunculan godaan ini diawali pada keterlibatan Dasein dalam obrolan – obrolan eksternal dalam keseharian yang dalam situasi tertentu mengarah pada basa – basi, lanturan hingga pergunjingan. Obrolan seperti ini yang tidak hanya terkesan menarik karena seolah menyamankan Dasein pada konteks permasalahan yang bukan miliknya, atau bahkan merasa lebih lega karena adanya persoalan lain yang lebih buruk derajatnya dan bahkan tidak juga esensial untuk diperbincangkan. Sebuah superfisialitas yang terkesan asyik dan memberi ketenangan palsu kemudian menjadi candu ketika terus – menerus terjadi dalam banalitas. Semakin tidak autentik hidup Dasein adalah ketika ini menjadi sebuah banalitas tanpa kecemasan akan apa yang terlupa, maka yang djumpainya nanti adalah tidak lain, dan tidak bukan, kekecewaan.
Mudah terbuainya kita pada omong kosong lainnya yang membawa kita pada tipu daya terbesar dalam temporalitas Dasein, yaitu terbiasa hidup menghindari kebenaran akan ‘Ada’ dan berujung tumpulnya nurani. Sehingga keseharian bersama yang ‘Ada’ disekitar terus dijalani pada permukaan yang dangkal terjerat pembicaraan – pembicaraan eksternal yang jauh dari akar reflektif dan kontemplasi.
Keterjeratan (Verfangnis) dari Omon – omon
Jauhnya Dasein dari makna dan intepretasi mendalam merupakan jerat kusut (Verfangnis) yang
membius dalam ketenangan (beruhigend) palsu. Seperti keseharian berjalan baik – baik saja dalam obrolan sekedarnya, dan ambiguitas yang menjamin kepastian seakan terpenuhinya semua
kemungkinan yang ada. Sebuah propagasi yang semakin memantapkan diri akan tidak dibutuhkannya autentisitas dan pencarian pemahaman yang tidak pernah menyentuh kebenaran (Stambaugh, Heidegger 1927 : 218). Jerat terhadap Ada-di-dunia menggoda dan dalam waktu yang sama menyamankan. Hal ini bukan berarti atas ketidakaktifan Dasein yang tidak melakukan apa – apa, atau berada dalam stagnasi, melainkan kesibukan yang membuai terus-menerus tanpa rehat.
Di zaman dimana informasi berjejalan dan saling berlomba berbicara di sosial media, jerat ini sungguh nyata di depan mata. Perebutan eksistensial dan jerat akan keterkaitan,hingga keberadaan satu sama lain, dipenuhi oleh interaksi – interaksi yang membutakan pencarian pemahaman dan seringkali membebalkan kemampuan interpretatif para Dasein yang sedang berkejar-kejaran menangkap ekspektasi the Anyone (Das Man) di dunia maya. Seolah konsekuensi tertinggal dalam banalitas yang harus terus berputar ini, adalah sebuah kegagalan yang seringkali dikatakan sebagai Fear of Missing Out (FOMO). Tanpa jeda, dan dipenuhinya rasa bersalah ketika tidak berada dalam pusara Das Man di media sosial atau wadah – wadah sosial yang menjanjikan interaksi dalam omong kosong yang minim makna seringkali menciptakan Dasein of others, tidak lagi Dasein untuk autentisitas dirinya.
Ketika Dasein menjalani hidupnya secara ‘universal’ seperti ini dan menganggap seperti terlibat, diikutsertakan dan memahami semua hal dalam pembicaraan (yang seringkali tidak diinisiasikan oleh dirinya sendiri) maka pembuaian ini tinggal tunggu waktu saja, akan kemudian hanyut dan tenggelam dalam alienasi.
Terperosok dalam Erntfremdung (Keterasingan/Alienasi)
Bagaimana dalam everydayness, the They yang tadinya memberi kenyamanan akhirnya dalam temporalitas waktu dan interaksi perbincangan yang diumbar tanpa esensi, membuat kita
terperosok ke jurang alienasi ? Tidak akan disadari dan menjadi sesuatu yang memang sulit untuk keluar darinya ketika kita merasa baik – baik saja. Ketika roda keseharian belum berputar dengan kencang. Ernfremdung atau alienasi / keterasingan seringkali dirasa sebagai sesuatu yang hampa ketika kita bangun dan menjalani rutinitas yang begitu – begitu saja dan tanpa pilihan lain harus terus dikerjakan, atas tekanan sosial maupun tekanan ekonomi.
Terinspirasi dari Hegel dan Karl Marx, Heidegger mengambil istilah Ernfremdung ini ketika membicarakan dasein yang jatuh sebagai mangsa secara ontologis atas konvensi sosial, sebuah keterlupaan akan dirinya dalama jangka waktu tertentu. Dalam Gerede, Dasein kehilangan pengetahuan atas banyak hal yang cukup. Dan cenderung seperti tercerabut dari relasi sesungguhnya dan seperti mengapung, ia tidak dapat menyentuh dasar dari pembicaraan tertentu sehingga tidak juga memiliki kemampuan untuk menuntaskannya (Heidegger,1962). Pada akhirnya alienasi ini akan menyebabkan Dasein untuk ‘self-dissection’ (membedah diri) secara berlebihan tanpa batas dan tiada habisnya, terputus dari probabilitas otentik yang ada. Padahal kita harus memahami batasan diri masing – masing untuk memutuskan kapan berhenti dan berefleksi sejenak, atau dalam jangka waktu yang diperlukan.
Menyikapi Ritual Omon – omon : Menuju Totalitas Dasein
Lantas apakah kita harus menahan diri tidak berinteraksi? Menumbuhkan ketakutan dalam mencoba terlibat dalam pembicaraan – pembicaraan yang sifatnya “tidak dalam” hanya untuk menyibak kebenaran, keautentikan? Apakah hal ini masih menjadi sesuatu yang dipertahankan dalam era post-truth? Dimana untuk selamat kadangkala slogan ‘Fake it ’till you make it’ seringkali menjadi pilihan terbanyak. Justru untuk membedakan dari Dasein yang autentik diantara Das Man, disinilah penekanan Heidegger atas godaan dan keterjatuhan (falling prey) menjadi jelas. Memahami makna hidup sesungguhnya adalah sebuah pilihan, dan tidak selalu menjadi mudah.
Heidegger terus menggarisbawahi setiap being yang terlempar di dunia adalah Sein-zum-tod (Being-towards-death), dimana dunia selalu berdampingan dengan fakta di akhir cerita, yaitu kematian. Ketika Dasein tertarik dalam kenyamanan omon – omon atau idle-talk, sesungguhnya ketenangan itu adalah karena keterlenaan sementaranya akan kematian. Pergunjingan tentang orang lain, pembicaraan akan keluhan disana – sini dan sesekali adu bualan akan kehebatan masing – masing ataupun omon – omon tentang harta. Tidaklah mudah menampik seputaran topik yang membuat manusia merasa terhibur atas sesuatu yang kosong melompong, ringan dan ‘terkesan hangat’. Kehangatan yang berselimut cuap – cuap pemancing validasi, atau omon – omon tanpa arah tujuan nirempatik sembari menghabiskan waktu.
Dasein dan keterbatasannya (Endlichkeit)
Tapi pernahkah kita mencoba menghindar untuk tidak melakukan hal yang dikatakan Heidegger sebagai pengantar ke gerbang kemerosotan eksistensial ini ? Tentu tidak terelakkan apabila kita mencoba untuk tidak berpartisipasi di dalam bincang – bincang kosong tersebut. Individu yang dengan sekuat tenaga berusaha keluar dari momen ini akan mendapatkan pandangan sebelah mata. Dicibir oleh mereka yang terlanjur hanyut dalam pakem – pakem, atau moda pergaulan Das Man. Secara psikososial bahkan merasa terpenjara karena lambat laun ditinggalkan oleh sirkel – sirkel yang biasa kita singgahi sebagai bagian dari keasyikan berinteraksi. Semua tanpa terlihat bahwa kita tercebur di dalam pusara tanpa dasar, dan ketiadaan atas keseharian yang tidak autentik (Stambaugh,Heidegger,1927,BT.h.219).
Tapi tahukah bahwa ini merupakan karakteristik ‘Ada-di-dunia’ dari seorang Dasein? Ketika ia tergelincir dan jatuh sebagai Fallen prey atas godaan, ketenangan, alienasi dan keterjeratan (ibid,h.221). Totalitas dari konstitusi eksistensialnya kemudian mulai dibangun melalui guncangan – guncangan dalam hidup yang mendatangkan Angst (kecemasan). Dan dihadapkannya pada satu kenyataan menuju ketiadaan. Ketika kita mulai mempertimbangkan tentang Gerede maka, bagi Heidegger, akan muncul kemudian sebuah pemahaman, bahwa kepedulian (Sorge) merupakan interpretasi sesungguhnya atas ‘Ada’-nya Dasein.
What is spoken is never, in any language, what is said.
-Martin Heidegger, On The Way To Language.
Referensi Pustaka
Donny Gahral Adian. Pengantar Fenomenologi. Depok Penerbit Koekosan, 2010.
Heidegger, Martin. Being and Time : A Translation of Sein Und Zeit. 1927. Translated by Joan
Stambaugh,Albany, Ny, State University Of New York Press, 1996.
Heidegger, M. (2024). Introduction to Philosophy (Wi. McNeill, Trans.). Indiana University Press.
Heidegger, M. (1982). On the way to language (P. D. Hertz, Trans.). San Francisco: Harper & Row.
The Haptic Room is supported by our readers. Our site may contain links to affiliate websites, and if you make a purchase through these links, we receive a commission to support our site.
